CARA MENENTUKAN AKAR MASALAH

Pada tahun 2016 yang lalu, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) khususnya LPMP Jambi memiliki program kerja terkait sekolah model pada jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK dengan jumlah sekolah sasaran sekolah model seluruhnya sebanyak 66 sekolah yang tersebar di 11 kabupaten/kota. Berdasarkan petunjuk teknis pengembangan sekolah model dan pola pengimbasan (dokumen 04.4), defenisi sekolah model adalah “sekolah yang ditetapkan dan dibina oleh Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) untuk menjadi sekolah acuan bagi sekolah lain di sekitarnya dalam penerapan penjaminan mutu pendidikan secara mandiri. Sekolah model menerapkan seluruh siklus penjaminan mutu pendidikan secara sistemik, holistik, dan berkelanjutan, sehingga budaya mutu tumbuh dan berkembang secara mandiri pada sekolah tersebut. Sekolah model dipilih dari sekolah yang belum memenuhi SNP untuk dibina oleh LPMP agar dapat menerapkan penjaminan mutu pendidikan di sekolah mereka sebagai upaya untuk memenuhi SNP”.

 

Dalam rangka pemenuhan SNP tersebut maka sekolah model minimal melakukan 4 tahapan penting yakni:

  1. Pemetaan mutu, yang selanjutnya disebut sebagai LK 1 (lembar kerja 1)
  2. Penyusunan rencana pemenuhan standar, yang selanjutnya disebut sebagai LK 2 (lembar kerja 2)
  3. Pelaksanaan rencana pemenuhan standar, yang selanjutnya disebut sebagai LK 3 (lembar kerja 3)
  4. Evaluasi pemenuhan standar, yang selanjutnya disebut sebagai LK 4 (lembar kerja 4)

Berdasarkan pada tahapan tersebut, maka kualitas program dan kegiatan yang akan dihasilkan sebagai tindak lanjut dari usaha pemenuhan SNP sangatlah di pengaruhi pada kualitas pemetaan mutu (LK 1) yang disusun oleh tim Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di sekolah.

Format pemetaan mutu yang selanjutnya disebut sebagai LK 1 (lembar kerja 1) minimal sebagai berikut. 

No.

Standar

Indikator

Kondisi saat ini

Analisis SWOT

Hal yang perlu diperbaiki (permasalahan) / tindak lanjut peningkatan

Akar masalah

Kekuatan

Kelemahan

Peluang

Ancaman

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan format tersebut, terkait pada kolom nomor 10 yakni menentukan akar masalah, maka setelah dilakukan analisis SWOT untuk setiap indikator pada standar yang sedang di petakan, maka untuk mengetahui urutan prioritas masalah yang harus diselesaikan akan lebih baik jika hasil dari analisis SWOT di tindak lanjuti dengan menggunakan teknik analisis Urgensi, Serious, Growth (aUSG). Dengan teknik ini, ketiga masalah tersebut ditentukan tingkat urgensi, keseriusan, dan perkembangan isu dengan menentukan skala nilai 1 – 5.  Isu yang mempunyai total skor tertinggi merupakan permasalahan prioritas untuk selanjutnya di cari akar masalahnya. Format teknik analisis Urgensi, Serious, Growth (USG) sebagai berikut. 

No.

Isu Aktual

Urgent

Serious

Growth

Total

Prioritas

1.

 

 

 

 

 

 

2.

 

 

 

 

 

 

3.

 

 

 

 

 

 

Dst

 

 

 

 

 

 

 

Selanjutnya berdasarkan hasil analisis Urgensi, Serious, Growth (USG) tersebut, maka untuk mencari akar permasalahan pada masalah prioritas dari indikator pada standar yang sedang di petakan selanjutnya dilakukan analisis penyebab masalah melalui analisis tulang ikan (fishbone analysis), yang dirumuskan sebagai berikut :

Selanjutnya berdasarkan hasil analisis tulang ikan (fishbone), dianalisis lebih lanjut untuk mendapatkan tingkat efektifitas, efisiensi, dan kemudahan dari upaya pemenuhan standar. Berdasarkan nilai total tertinggi maka alternatif strategi tersebutlah yang dipilih. Analisis ini menggunakan teori tapisan sebagai berikut. 

No

 

Alternatif Strategi

 

Efektivitas

Efisiensi

Kemudahan

Total

Ket.

1

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

 

 

 

3

 

 

 

 

 

 

Dst

 

 

 

 

 

 

  

Data Penulis

Nama               : Budi Hartono, S. Pd,. M. Pd

Jabatan            : Widyaiswara Madya

Unit Kerja         : LPMP Jambi

No Hp             : 081367755194

Email               : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.